Saturday, May 26, 2018

NYINYIR PERKINS TENTANG RADIKALISME ORANG-ORANG SUPER KAYA



Kalau yang ditulis Perkins tentang Economic Hit Man "Perusak Ekonomi" (2005) benar, tentu dahsyat daya rusaknya daripada daya rusak yang dibikin teroris-teroris yang hanya bersenjata bom rakitan dengan pelaku orang-orang miskin atau ekonomi pas-pasan. Bayangkan Perkins menggambarkan kaum profesional dengan bayaran tinggi melakukan praktik penipuan dalam jumlah triliunan dolar terhadap banyak negara di seluruh dunia, terutama negara berkembang.

Dia sebut-sebut uang dari Bank Dunia, Badan Pembangunan Internasional AS (USAID), dan organisasi bantuan asing lainnya mereka gelontor ke dalam pundi-pundi perusahaan-perusahaan besar dan kantong beberapa keluarga kaya yang mengendalikan sumber daya alam di muka planet ini.

Dalam menjalankan operasinya mereka seperti dikemukakan di depan, tidak hanya membuat bom rakitan, tetapi menggunakan alat yang lebih dahsyat. Alat seperti apa itu? Menurut Perkins alat itu berupa laporan keuangan yang curang, pemilihan umum yang curang, pembayaran, pemerasan, seks, dan juga pembunuhan.

Tentu saja pengakuan Perkins tersebut sungguh dapat dijadikan acuan mengenai cara-cara kelompok bergelimang uang (affluent) dalam memenuhi kepentingan ekonomi mereka. Orang-orang berkekayaan trilyunan dolar itu menurut Perkins, sekali lagi tak sekedar bikin bom rakitan, tetapi melakukan berbagai cara, seperti kecurangan dalam laporan keuangan, melakukan pemilu curang, termasuk ancaman, teror, kekerasan dan bahkan kudeta (John Perkins, The Confession of an Economic Hit Man, New York: Berret-Koehler Pub, 2005).

Jadi fundamentalisme kelompok ekonomi pas-pasan (subsistensi) sebagai reaksi terhadap deprivasi ekonomi —dan kemudian memilih jalan kekerasan seperti merakit bom atau bom bunuh diri dalam penyelesaian masalah— itu saja sudah bikin resah dan menakutkan. Namun sesungguhnya kekerasan yang dilakukan oleh kelompok affluent —kelompok berkecukupan yang selalu berusaha untuk melestarikan kondisi kelimpahan ekonomi mereka, jauh lebih menakutkan dan lebih besar daya rusaknya.

Dalam rangka menjaga kelangsungan ekonomi affluent mereka, kelompok bergelimang uang ini terus berekspansi. Sedapat mungkin seluruh ruang kehidupan di permukaan bumi ini harus berada dalam kontrol mereka dengan mengerahkan seluruh kekuatan, meminjam bahasa Kenichi Ohmae, melibatkan empat “I” —investasi, industri, individu, dan informasi (Kenichi Ohmae, Hancurnya Negara-Bangsa: Bangkitnya Negara Kawasan dan Geliat Ekonomi Regional di Dunia Tak Terbatas, Yogyakarta: Qalam, 2002).

Ohmae tidak sekritis dan setajam nyinyirnya John Perkins. Namun, sebenarnya kalau saja Ohmae jujur, tidak hanya empat “I”, tetapi sebagaimana belakangan semakin terlihat menyolok, kelompok “affluent fundamentalis” atau “fundamentalis berkelimpahan,” tersebut melengkapi alat ekspansi mereka dengan alat-alat represif, terutama kekuasaan, lembaga peradilan dan militer.

Bukan mustahil dengan pendekatan konspiratif mereka memanfaatkan kelompok terdeprivasi dan terpinggirkan yang umumnya mudah terbakar, direkrut untuk menjadi bagian dari gerakan radikal yang kemudian melakukan berbagai tindakan kekerasan, termasuk direkrut jadi pengantin untuk melakukan bom bunuh diri (suicide bombings).

Thursday, May 24, 2018

ORANG MENGIRA RADIKALISME ITU MONOPOLI ORANG MISKIN


Radikalisme Kelompok Ekonomi Berkecukupan (Affluent-class)

Fundamentalisme kelompok ekonomi pas-pasan (subsistensi) sebagai reaksi terhadap deprivasi ekonomi —dan kemudian memilih jalan kekerasan seperti merakit bom atom bom bunuh diri dalam penyelesaian masalah— tentu meresahkan. Tetapi sebenarnya ada yang tidak kalah berbahaya yaitu kekerasan yang dilakukan oleh kelompok affluent —kelompok berkecukupan yang justru tengah berjuang untuk melestarikan kondisi kelimpahan ekonomi mereka.

Dalam rangka menjaga kelangsungan ekonomi affluent mereka, kelompok ini terus berekspansi. Sedapat mungkin seluruh ruang kehidupan di permukaan bumi ini harus berada dalam kontrol mereka dengan mengerahkan seluruh kekuatan, meminjam bahasa Kenichi Ohmae, melibatkan empat “I” —investasi, industri, individu, dan informasi (Kenichi Ohmae, Hancurnya Negara-Bangsa: Bangkitnya Negara Kawasan dan Geliat Ekonomi Regional di Dunia Tak Terbatas, Yogyakarta: Qalam, 2002).

Sebenarnya kalau saja Ohmae jujur, tidak hanya empat “I”, tetapi sebagaimana belakangan semakin terlihat menyolok, kelompok “affluent fundamentalis” atau “fundamentalis berkelimpahan,” tersebut melengkapi alat ekspansi mereka dengan alat-alat represif, terutama kekuasaan, lembaga peradilan dan militer.

Bukan mustahil dengan pendekatan konspiratif mereka memanfaatkan kelompok terdeprivasi dan terpinggirkan yang umumnya mudah terbakar, direkrut untuk menjadi bagian dari gerakan radikal yang kemudian melakukan berbagai tindakan kekerasan, termasuk direkrut jadi pengantin untuk melakukan bom bunuh diri (suicide bombings).

Demokrasi sebagai instrumen yang dianggap telah final, ternyata tak sanggup menghentikan penjarahan, bukan yang dilakukan oleh “fundamentalis agama”, tetapi dilakukan oleh kaum “fundamentalis berkelimpahan”. Justru atas nama demokrasi, “fundamentalis berkelimpahan” ini memilih jalan kekerasan dengan menyatakan perang dengan menangkapi terhadap siapa saja yang dianggap menghalang-halangi kepentingan ekspansi modal, produksi dan pasar ekonomi. Penangkapan dilakukan dengan alasan melakukan makar, mengancam NKRI atau Bhineka Tunggal Ika, atau bisa jadi dilakukan dengan alasan mau mengganti ideology Pancasila.

Pengakuan Perkins, dapat dijadikan acuan mengenai cara- cara kelompok affluent memenuhi kepentingan ekonomi mereka dengan melakukan berbagai cara, seperti kecurangan dalam laporan keuangan, melakukan pemilu curang, pemerasan, termasuk ancaman, teror, kekerasan dan bahkan kudeta (John Perkins, The Confession of an Economic Hit Man, New York: Berret-Koehler Pub, 2005).

Walhasil, agama tetap menjadi alat yang paling efektif untuk membangun dan mengokohkan ideologi sebuah gerakan perubahan, termasuk gerakan yang memilih cara radikal yang erat dengan kekerasan. Namun, hal itu tidak bisa begitu saja dibaca sebagai akibat dari pesan dasar ajaran agama itu sendiri.

Di lain fihak karena desakan dinamika dan sistem sosial ekonomi dan politik di sekitarnya yang eksploitatif. Itulah sebabnya, radikalisme bisa dilakukan siapa saja. Mereka yang terpinggirkan secara ekonomi maupun mereka yang berkelimpahan. Masing-masing bisa saja menggunakan agama dengan berbagai simbolnya untuk menopang gerakan yang mereka pilih, dalam hal ini radikalisme.

Bagi mereka yang mengalami subsistensi, agama dan simbol-simbolnya digunakan untuk menjustifikasi kekerasan yang dilakukan. Demikian juga agama dan simbol-simbolnya digunakan mereka yang menikmati posisi affluent untuk menjustifikasi kekerasan yang ia gunakan untuk mengamankan keberlimpahan hidupnya. Namun yang pasti, sejarah kekerasan lebih banyak melahirkan trauma dan kekerasan baru, ketimbang menjadi sebuah solusi.

Saturday, May 19, 2018

INDONESIA NEGARA KEKERASAN - A VIOLENCE COUNTRY


Indonesia kemudian serta merta dicatat sebagai negara yang dikenal dengan kekerasannya (a violence country). Kekerasan di Mako Brimob kemudian disusul rentetan ledakan bom bunuh diri di Surabaya, Sidoarjo dan Riau Mei 2018 melengkapi daftar panjang kekerasan yang terjadi di negeri ini.

Baca juga: http://zetende.blogspot.com/2018/05/radikalisme-atas-nama-agama-merasa.html

Boleh dikata tak pernah putus, kekerasan demi kekerasan terus terjadi. Berikut sekedar menyebut sebagian dari rentetan kekerasan itu. Beberapa tahun setelah reformasi Indonesia diguncang dua ledakan di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz- Carlton, Mega Kuningan, Jumat (17/6/2009). Lalu Merdeka.com 29 Desember 2015 melaporkan di Kabupaten Tolikara, umat Islam yang hendak melaksanakan salat id diserang oleh sekelompok orang. Musala Baitul Muttaqin hangus dibakar. Sekelompok orang tiba-tiba menyerang jemaah yang sedang melaksanakan salat id di lapangan Makoramil 1702-11/Karubaga, sekitar pukul 07.00 WIT. Massa meminta salat id yang digelar di ruang terbuka dihentikan. Sebelum peristiwa pembakaran musala dan penyerangan terhadap umat Islam yang hendak salat id, lebih dahulu beredar surat larangan salat Idul Fitri pada 11 Juli 2015 mengatasnamakan Jemaat GIDI Wilayah Tolikara. Alasannya, pada Tanggal 13 sampai 19 Juli 2015 akan diselenggarakan Seminar dan KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani) Pemuda tingkat internasional. Intinya, karena acara tersebut GIDI Wilayah Tolikara melarang adanya kegiatan Lebaran pada 17 Juli. Kemudian boleh merayakan Lebaran tetapi di luar kota dan melarang muslimah memakai jilbab.

Kekerasan juga tercatat terjadi di Markas Polresta Solo (5/7/16), di Gereja Katolik Stasi Santo Yosep, Medan (28/8/16), pos polisi di Tangerang (20/10/16), dan di Gereja Oikumene, Samarinda (13/11/16). Sedikitnya dua orang tewas dan 95 rumah dibakar akibat konflik antarmasyarakat di Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua April 2016.Ledakan Bom di Terminal Kampung Melayu menewaskan 4 orang aparat kepolisian Kamis 25 Mei 2017 - 11:59 WIB. Begitu juga tentu saja orang belum lupa ledakan bom bunuh diri di Thamrin Jakarta 14 Januari 2016.

Baca juga: http://zetende.blogspot.co.id/2018/05/fakta-atau-konspirasi-terorisme-harus.html

Bangsa ini terutama kaum radikal belum menyadari, bahwa kekerasan yang dipandang sebagai jalan keluar, dalam praktik justru melahirkan kekerasan baru. Terorisme yang marak di negeri ini hanya memicu Negara untuk memperkuat aparatur represif secara sistematik. Lihat saja, ledakan bom tak bermoral di Surabaya, Sidoarjo dan Riau, semakin menaikkan hasrat negara meminta legitimasi peraturan perundangan untuk memperkuat tindakan represivenya.

Memang, hanya negara yang diberi kewenangan untuk menggunakan kekerasan. Namun perlu disadari bahwa kekerasan negara (state violence) bisa menginspirasi dan mengkonspirasi lahirnya kekerasan masyarakat, terutama jika penggunaan kekerasan yang sah oleh negara itu tidak digunakan secara proporsional. Memang negara harus diberi kewenangan untuk menjalankan dan menggunakan aparatur represif maksudnya adalah untuk mencegah agar tidak terjadi dan tidak berjalan hukum homo homini lupus atau manusia adalah serigala bagi manusia yang lain yang saling memangsa.

Adalah para penganut mazhab Frankfurt yang sadar bahwa radikalisme dan revolusi berdarah yang ditawarkan eksponen Marxisme ortodok hanya melahirkan kekerasan baru dan tidak bisa membantu upaya mencapai tujuan yang dicita-citakan. Semua itu telah memberi pelajaran kepada para eksponen teori kritis yang dimotori eksponen dari mazhab Frankfurt untuk tidak menyarankan kekerasan sebagai jalan keluar. Mereka lebih menyarankan untuk membangun gerakan kultural dan intelektual dalam melakukan perlawanan terhadap tekanan struktural.

Tautan:
http://zetende.blogspot.co.id/2018/05/sadar-agama-menyimpan-energi-politik.html
http://zetende.blogspot.com/2018/04/telah-tersingkir-dengan-sukses-para.html
http://zetende.blogspot.co.id/2018/04/kenapa-amien-rais-berteriak.html
http://zetende.blogspot.co.id/2018/04/the-end-of-globalization-perang-dagang.html

Thursday, May 17, 2018

"FAKTA ATAU KONSPIRASI, TERORISME HARUS DIHABISI"


Negara dibikin harus kerja lebih keras lagi untuk bisa meyakinkan publik, bahwa teror sudah akan berakhir. Masyarakat sudah mencoba tidak takut dan tidak gentar. Namun, setidak-tidaknya beberapa hari setelah teror tak bermoral penebar maut di Surabaya dan sekitarnya itu terjadi, senyatanya jalan-jalan lengang, pertokoan tutup, omset dagangan merosot drastis, dan sekolah-sekolah diliburkan. Masyarakat mengharap pemerintah melalui aparatusnya yang berwenang, khususnya POLRI untuk memberantas terorisme,hingga kemudian tercipta stabilitas, terjauh dari kecemasan dan ketakutan.

Oleh karena yang menjadi korban adalah Jemaat Gereja dan terduga penebar teror adalah Islam, maka umat Islam pun kena getahnya. Masyarakat yang berfikir pendek dengan gampang menyimpulkan Islam itu penebar teror. Tidak mau tahu, bahwa Islam itu bahkan mayoritas umatnya adalah toleran, demokratis dan penebar rahmatan lil alamin. Oleh karena itu dalam kondisi seperti ini mayoriras umat Islam yang toleran haruslah bekerja keras dan lebih sistematis menangkal ideologi radikal, selanjutnya menebarkan faham Islam toleran dan penebar rahmatan lil alamin.

FAKTA ATAU KONSPIRASI?

Sejauh ini, tampaknya pandangan masyarakat terbelah. Ada yang mengatakan rentetan teror yang terjadi itu adalah fakta. Tetapi, ada yang walaupun mungkin diam-diam beranggapan bahwa rentetan teror penebar maut itu adalah proyek, rekayasa dan konspirasi. Yang pasti, tidak ada yang bisa menunjukkan bukti semua itu adalah proyek konspirasi. Oleh karena itu dikesampingkan tentang pendapat yang mengatakan kemungkinan munculnya orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang berusaha memanfaatkan segelintir orang Islam radikal.

Satu hal yang tidak perlu dipungkiri bahwa selama ini memang di kalangan muslim, meskipun kecil jumlahnya namun ada yang dikenal sebagai kelompok berkacamata kuda. Mereka berkacamata kebenaran tunggal, lalu merasa dirinya paling benar. Mereka perlihatkan sikap intoleran, disertai sikap mudah mengkafirkan orang dan bahkan bersikap radikal terhadap orang yang berfaham lain. Inilah cikal bakal munculnya gerakan radikal atas nama agama.

Gerakan kekerasan atas nama agama memiliki karakteristik yang khas dan sangat mudah diidentifikasi. Konsep “banyak jalan menuju syurga,” atau konsep “kebenaran plural,” tidak dikenal. Gerakannya cenderung ber-ideologi “kebenaran tunggal.” Oleh karena itu, selain kebenaran menurut kacamatanya, semua adalah salah, bahkan kafir yang kalau mati masuk neraka. Mereka tidak pernah mencoba ber-muhasabah tentang kemungkinan merasa benar di jalan yang sesat dan bukan tersesat di jalan yang benar. Oleh karena itu mereka memegangi ideologi kebenaran tunggalnya itu dengan "kekeh" sehingga cenderung kaku.

Mereka tidak merasa perlu berdialog,bahkan bersikap sensitive terhadap pandangan lain. Mereka tidak mentolerir siapa saja yang fahamnya tidak masuk kerangka ideologi kebenaran tunggalnya, kendati sesama anak bangsa, bahkan sesama Islam. Sebaliknya mereka yang tak sejalan dengan kerangka berfikir mereka, layak dijadikan korban kekerasan. Bahkan layak diperangi dan dijadikan sasaran bom bunuh diri (suicide bombings). Sikap seperti inilah yang sungguh rentan, bak tumpukan jerami yang dengan mudah dikonspirasi oleh fihak-fihak tak bertanggung jawab untuk memusuhi, menteror, membunuh dan memerangi sesama, bahkan sesama Muslim.

BUKAN MONOPOLI ISLAM

Sebenarnya, gerakan kekerasan atas nama agama, tidak hanya terjadi dalam Islam. Gerakan kekerasan atas nama agama juga terjadi di kalangan Kristen. Salah satu contoh dari gerakan yang mengatasnamakan agenda suci dalam Kristen itu seperti digambarkan Kelsay dan Twiss, sebuah gerakan fundamentalisme pada tahun 1920-an yang digerakan oleh pemeluk agama yang taat di dalam Kekristenan. Gerakan ini ingin menjaga dan memurnikan kesempurnaan Alkitab. Mereka tidak sabar menunggu kedatangan Yesus kembali. Dalam kerangka kesempurnaan Alkitab itulah mereka mengkritik dan melawan banyak aspek kehidupan modern seperti pluralisme, konsumerisme, materialisme dan penekanan pada persamaan laki-laki perempuan (Lihat John Kelsay dan Sumner B. Twiss, Agama dan Hak-hak Asasi Manusia, Yogyakarta: Institut Dian/Interfidei, 1997, hal 35-36).

Dalam kondisi seperti ini saya tertarik untuk mengangkat catatan Prof. Komaruddin Hidayat. Memberi pengantar buku saya "Agama Rakyat, Agama Penguasa," mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu menyatakan bahwa agama merupakan sumber peradaban yang sangat besar dalam sejarah kemanusiaan, namun agama juga merupakan sumber konflik sosial yang amat kejam dan berkepanjangan. Karena fenomena agama yang selalu tampil mendua dan ambigu ini maka agama sering dituduh memiliki cacat bawaan yang kronis. Ia dipuji dan dibela tetapi sekaligus juga dibenci dan dicaci. Nasib seperti ini dialami terutama oleh agama Yahudi, Kristen dan Islam (Zainuddin Maliki, Agama Rakyat Agama Penguasa, Yogyakarta: Galang Press, 2000:xxi).



Tautan:
http://zetende.blogspot.co.id/2018/05/sadar-agama-menyimpan-energi-politik.html
http://zetende.blogspot.com/2018/04/telah-tersingkir-dengan-sukses-para.html
http://zetende.blogspot.co.id/2018/04/kenapa-amien-rais-berteriak.html
http://zetende.blogspot.co.id/2018/04/the-end-of-globalization-perang-dagang.html
http://zetende.blogspot.com/2018/05/radikalisme-atas-nama-agama-merasa.html

Tuesday, May 15, 2018

Radikalisme Agama: ADALAH JERAMI YG MUDAH DIBAKAR DG KONSPIRASI PIHAK TAK BERTANGGUNG JAWAB



Setelah bikin onar di Mako Brimob, mereka kemudian melancarkan teror dan menebarkan maut di Surabaya pertengahan Mei ini. Gerakan radikal di Indonesia, yang dalam hal ini mengatasnamakan Islam, belakangan semakin marak. Densus 88, sebagai alat negara sudah memburu dan menembak mati para pelaku kekerasan dan teror berlatar belakang agama tersebut. Namun, aparat kekerasan negara itu tak kunjung berhasil menghentikan radikalisme dan kekerasan atas nama agama.

BERSENJATA IDEOLOGI KEBENARAN TUNGGAL:
Mudah dikonspirasi oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab.


Gerakan kekerasan atas nama agama memiliki karakteristik yang khas dan mudah diidentifikasi. Konsep “banyak jalan menuju syurga,” atau konsep “kebenaran plural,” tidak dikenal. Gerakannya cenderung ber-ideologi “kebenaran tunggal.” Oleh karena itu, selain kebenaran menurut kacamatanya, semua adalah salah, bahkan kafir yang kalau mati masuk neraka. Mereka tidak pernah mencoba ber-muhasabah tentang kemungkinan merasa benar di jalan yang sesat dan bukan tersesat di jalan yang benar. Oleh karena itu mereka memegangi ideologi kebenaran tunggalnya itu dengan "kekeh" sehingga cenderung kaku.

Mereka tidak merasa perlu berdialog,bahkan bersikap sensitive terhadap pandangan lain. Mereka tidak mentolerir siapa saja yang fahamnya tidak masuk kerangka ideologi kebenaran tunggalnya, kendati sesama anak bangsa, bahkan sesama Islam. Sebaliknya mereka yang tak sejalan dengan kerangka berfikir mereka, layak dijadikan korban kekerasan. Bahkan layak diperangi dan dijadikan sasaran bom bunuh diri (suicide bombings). Sikap seperti inilah yang sungguh rentan, bak tumpukan jerami yang dengan mudah dikonspirasi oleh fihak-fihak tak bertanggung jawab untuk memusuhi, menteror, membunuh dan memerangi sesama, bahkan sesama Muslim.

Baca juga:http://zetende.blogspot.co.id/2018/05/indonesia-negara-kekerasan-violence.html

PERUBAHAN DENGAN CARA RADIKAL

Radikalisme acapkali berkait dengan kehendak melakukan perubahan cepat. Perubahan tersebut tidak sepenuhnya mulus. Sejarah perubahan di masyarakat tidak selalu dilakukan dengan “senyuman dan keramahan”. Sejarah perubahan acapkali terjadi dilakukan dengan “kemarahan dan kekerasan”. Tidak sedikit gerakan radikal disertai kekerasan mengguncang dan memaksa kemapanan untuk berubah. Merubah tatanan. Merubah system. Merubah kebijakan dan juga komposisi elite yang mengendalikan roda kehidupan baru.

Sebagian gerakan-gerakan itu didasarkan pada ideologi sekuler. Sebut misalnya revolusi Perancis, Rusia, China maupun Kuba. Revolusi Perancis mendasar-kan pada ideologi sekuler. Dalam hal ini ideologi liberal. Mereka menuntut kebebasan berpikir dan dilakukan pemisahan antara intelektualitas dengan kekuat-an gereja. Sementara itu Rusia, China dan Kuba mendasarkan pada ideologi sekuler yang berakar dari Marxisme. Mereka melakukan perlawanan terhadap praktik eksploitasi yang dilakukan oleh kaum feodal dengan cara-cara radikal.

Di samping gerakan atau revolusi sosial yang berakar ideologi sekuler, di sisi lain muncul gerakan yang berakar keyakinan keagamaan. Dewasa ini, bahkan gerakan yang tersebut terakhir itu mengalami revivalisme. Salah satu pemicunya adalah kekecewaan terhadap pola hidup masyarakat yang cenderung permisive disertai menyebarnya gejala ketimpangan struktural dan ketidak adilan. Sebagian gerakan revivalis itu tumbuh dengan semangat toleransi. Sebagian lainnya mendorong lahirnya cara-cara radikal disertai kekerasan. Uniknya gerakan radikal itu acapkali atas nama agama. Mereka yang mencari solusi dari krisis sosial dengan cara-cara radikal dan mengatasnamakan “agenda suci” itulah yang dikenal sebagai gerakan fundamentalisme agama.

BUKAN MONOPOLI ISLAM

Sebenarnya, gerakan kekerasan atas nama agama, tidak hanya terjadi dalam Islam. Gerakan kekerasan atas nama agama juga terjadi di kalangan Kristen. Salah satu contoh dari gerakan yang mengatasnamakan agenda suci dalam Kristen itu seperti digambarkan Kelsay dan Twiss, sebuah gerakan fundamentalisme pada tahun 1920-an yang digerakan oleh pemeluk agama yang taat di dalam Kekristenan. Gerakan ini ingin menjaga dan memurnikan kesempurnaan Alkitab. Mereka tidak sabar menunggu kedatangan Yesus kembali. Dalam kerangka kesempurnaan Alkitab itulah mereka mengkritik dan melawan banyak aspek kehidupan modern seperti pluralisme, konsumerisme, materialisme dan penekanan pada persamaan laki-laki perempuan (Lihat John Kelsay dan Sumner B. Twiss, Agama dan Hak-hak Asasi Manusia, Yogyakarta: Institut Dian/Interfidei, 1997, hal 35-36).



Tautan:
http://zetende.blogspot.co.id/2018/05/sadar-agama-menyimpan-energi-politik.html
http://zetende.blogspot.com/2018/04/telah-tersingkir-dengan-sukses-para.html
http://zetende.blogspot.co.id/2018/04/kenapa-amien-rais-berteriak.html
http://zetende.blogspot.co.id/2018/04/the-end-of-globalization-perang-dagang.html
http://zetende.blogspot.com/2018/05/radikalisme-atas-nama-agama-merasa.html

Thursday, May 10, 2018

SADAR AGAMA MENYIMPAN ENERGI POLITIK YANG BESAR: Sultan Agung pun mengubah kalender Jawa dengan penanggalan Islam



Sultan Agung dengan jeli melihat energi di balik agama. Di sana ada kekuatan yang dapat memperkokoh kekuasaan. Kekuasaan yang ia bangun di atas doktrin ‘keagungbinataraan’. Kekuasaan yang luas gung binatara, bau dendha anyakrawati –sebesar kekuasaan dewa, pemelihara hukum dan penguasa dunia. Sang rajalah pemegang kekuasaan tertinggi di seluruh negeri –wenang wisesa ing sanagari. Untuk mengokohkan kekuasaannya, Sultan Agung mengundang ulama dari Mekah untuk mengukuhkannya sebagai seorang Sultan yang bergelar sayyidin panata gama, kalifatullah ing tanah Jawi. Dengan cerdik pula, Sultan Agung mengubah kalender Jawa dengan penanggalan Islam, sehingga orang Jawa kemudian mengenal nama bulan seperti Sawal, Selo, Besar, Suro, Sapar, Mulud, Bakda-mulud, Jumadilawal, Jumadilakir, Rejeb, Ruwah lan Poso. Namun, prinsip penundukan (vassal) dan pertuanan (overlord) tetap saja tida k bisa dielakkan. Dianggap sebagai ancaman, Sultan Agung pernah mengirim ekspidisi penyerangan ke daerah para wali, di Giri pada 1635. Setelah itu Mangkurat II mene¬ruskan untuk menghancurkannya pada 1680.

Baca juga: http://zetende.blogspot.co.id/2018/04/telah-tersingkir-dengan-sukses-para.html

Begitulah kalau saja kekuasaan dikonstruks seperti ‘sawah’ –komoditi yang hanya bisa diperluas dengan cara mempersempit ‘sawah’ milik orang lain. Konstruks kekuasaan dengan metafor ‘sawah’ itu tampak masih dijalankan oleh sementara penguasa di jaman Indonesia modern. Penundukan dan pertuanan masih dipelihara. Pemilu, sebagai wujud system demokrasi, bisa ‘ditekuk-tekuk’ sehingga tetap menghasilkan system kekuasaan yang diselimuti oleh nilai-nilai ‘kebinataraan’. Kekuasaan lalu digunakan untuk membatasi partisipasi. Kekuasaan lalu dimanfaatkan untuk memperbesar kewenangan. Kekuasaan bukan untuk menciptakan altruisme atau kebaikan bersama, melainkan untuk meneguhkan predikat homo politicus yang sekaligus homo economicus sang pemegang kekuasaan.

Pingin lebih jauh lagi bacaan anda tentang perilaku penguasa di negeri ini? Bacalah buku saya " Agama Priyayi," diterbitkan Pustaka Marwa, Yogyakarta. Buku ini ditulis untuk dijadikan teman diskusi bagaimana sebenarnya kekuasaan itu harus dicari, dan dipergunakan. Kesejahteraan, kedamaian dan kesentausaan hidup bersama memang membutuhkan sejumlah kuasa. Namun, kuasa yang bukan disalah gunakan dan disalah artikan.




Tautan:
http://zetende.blogspot.co.id/2018/05/sadar-agama-menyimpan-energi-politik.html
http://zetende.blogspot.com/2018/04/telah-tersingkir-dengan-sukses-para.html
http://zetende.blogspot.co.id/2018/04/kenapa-amien-rais-berteriak.html
http://zetende.blogspot.co.id/2018/04/the-end-of-globalization-perang-dagang.html
http://zetende.blogspot.com/2018/05/radikalisme-atas-nama-agama-merasa.html

Friday, April 27, 2018

TELAH TERSINGKIR DENGAN SUKSES: Para Ideolog dan Pencerah dari Ranah Politik

Ideolog, aktivis, pencerah dan pendidik foto bersama dengan penguasa.
Tidak tampak di situ potret pengusaha atau pemodal besar.

Pernahkah anda bayangkan kalau politik kini sesungguhnya lebih merupakan arena permainan para pelaku ekonomi atau pemodal besar -langsung atau tidak langsung. Panggung utama politik sebenarnya bukan lagi menjadi arena para ideolog, aktivis pergerakan, dan para pencerah. 

Politik berubah menjadi arena permainan para pelaku ekonomi dan pemilik modal yang telah berhasil mengubah budaya politik menjadi politik transaksional. Sebagian pemodal itu tetap memilih berada di balik panggung. Kendati demikian, meski tidak tampak di permukaan, dengan modal finansialnya mereka memiliki political leverage yang kuat. Dengan modal besarnya itu dapat menguasai  dan mengontrol  jalannya roda politik. Namun belakangan tak sedikit mereka yang  berusaha turun gunung  untuk secara langsung  menjalankan  kekuasaan  dan roda politik.

Para aktivis dan ideolog terpinggirkan, pengaruhnya digantikan oleh pemodal besar dengan para klien mereka. Sebagai pelaku ekonomi, mereka bawa logika ekonomi tersebut ke ranah politik yaitu logika “menanam investasi sekecil-kecilnya untuk menangguk untung sebesar-besarnya”.

Tentang ideologi, khusunya relasi agama dan politik baca juga: http://zetende.blogspot.co.id/2018/05/sadar-agama-menyimpan-energi-politik.html

Tesis sosiolog dari Harvard University, Daniel Bell (1960) tentang the End of Ideology, matinya ideologi-ideologi besar pada abad 19 dan awal abad 20, mendapat bukti yang kian jelas. Saat ini, bukan hanya ditandai dengan absennya politisi yang mampu menjelaskan gagasan ideologis mereka. Arena politik diisi oleh para pemburu kekuasaan. Para penggerak dan aktivis yang kaya dengan gagasan-gagasan ideologis terpinggirkan secara menyedihkan dari percaturan politik. 

Panggung politik kemudian –boleh dikata sepenuhnya berada dalam genggaman orang-orang kaya. Politik menghasilkan kekuasaan berbasis uang, dan bukan lagi berbasis ideologi. Lahirlah regime politik uang, yang oleh Kevin Phillips disebut dengan Regime Plutocracy, yakni regime yang dikendalikan oleh orang-orang kaya.

Dalam regim plutocracy, roda pemerintahan dijalankan berdasarkan rule of the rich, berdasarkan kemauan dan kepentingan orang kaya, dan bukan didasarkan kepada kemauan dan kepentingan orang miskin, kaum buruh maupun orang-orang lemah.

Peristiwa dan proses-proses politik, terutama pemilu atau pilkada, dipandang oleh masyarakat sebagai peristiwa dan proses politik yang tak lepas dari persebaran uang. Politik transaksional berlangsung, mulai dari yang tertutup hingga yang kasat mata.

Dengan demikian “uang” adalah kekuatan utama dalam politik transaksional. Dalam budaya politik transaksional seperti itu tidak berlaku ideologi politik. Begitu juga politik aliran tidak berlaku. Termasuk aliran pemahaman keagamaan sekalipun. Demikian juga tidak berlaku istilah the power of knowledge –kekuatan ilmu pengetahuan. Ilmuwan yang memandang ilmu pengetahuan sebagai kekuatan tidak memperoleh ruang di ranah politik transaksional. 

Dalam pusaran politik yang berkembang seperti itu yang berlaku adalah the power of money –kekuatan uang. Mereka yang sanggup membayar mahar politik, yang bisa ambil kekuasaan. Sedikit saja mereka yang menggenggam kekuasaan politik yang diperoleh tanpa mahar. Politik menjadi arena para pembayar mahar dan para pemodal besar.


Selebihnya bisa anda baca dalam buku saya 
"Muhammadiyah dalam pusaran politik", 
diterbitkan oleh Hikmah Press, 2017




Tautan:
http://zetende.blogspot.co.id/2018/05/sadar-agama-menyimpan-energi-politik.html
http://zetende.blogspot.com/2018/04/telah-tersingkir-dengan-sukses-para.html
http://zetende.blogspot.co.id/2018/04/kenapa-amien-rais-berteriak.html
http://zetende.blogspot.co.id/2018/04/the-end-of-globalization-perang-dagang.html
http://zetende.blogspot.com/2018/05/radikalisme-atas-nama-agama-merasa.html